Jumat, 28 April 2017

DIKIRA BOCAH 2

Oke, gw mau post dikira lagi..

Inget post ini?  
Gw bikin sequelnya nih. (eaaaaaaak lagak gw, kayak yang kemaren ratingnya bagus aja ye)

Jadi sebelum bahas gw yang lagi-lagi dikira bocah, gw mau kasih peringatan kepada pembaca. "Post ini dan kebanyakan post lainnya di blog ini mengandung atau mungkin sudah melahirkan unsur narsis. Jadi, jika kalian tidak suka dengan apapun yang berbau narsis coba deh sekali-kali narsis. Kata dosen gw, narsis itu penting dan perlu. Apalagi dalam dunia fana yang penuh akan persaingan ini, lu gak narsis, lu gak bakal dilirik."
Eit, dosen gw tadi bahas dunia kerja loh ya? Narsis di curriculum vitae gitu. Tapi kalo lu mau artiin jodoh juga boleh lah, terserah aja gw mah, kalo lu beriman bahwa kualitas jodoh ditentukan oleh kadar kenarsisan ya imanilah huahahahahaaa.. Selamat bernarsis-narsis ria kalo gitu.


Umm.. Gw kadang heran sama orang-orang, beneran gw ini kayak bocah? Ng, memang gw gak gampang percaya sama orang-orang, dan kebanyakan orang yang dengan tidak sopan berani-beraninya menebak umur gw itu orang yang baru ketemu. Bisa jadi kan mereka ini bohong ala-ala telepon mama minta pulsa? Tapi dari sekian banyak orang yang bilang ke gw gak ada tuh yang pada akhirnya minta pulsa. Gimana dong?

Selasa, 12 Juli 2016

Jimmy, My Beloved Partner

Huaaaaaah.. Efek gak mudik, bawaannya mengenang masa-masa lalu di kampung halaman.

Actually, saya gak punya kampung halaman sih. Tempat kelahiran cuma numpang, di suatu pulau yang bukan pulau asal dari kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya pun berasal dari pulau yang berbeda. Ya ampun, gak kebayang deh, kalau Indonesia ini terpecah-belah dan masing-masing minta merdeka. Saya harus ikut yang mana, em?
But, calm.. Indonesia akan tetap satu, dengan kebudayaan melimpah di banyak pulau, suku, dan agama sekalipun. Walaupun saya gak punya kampung halaman, saya masih punya tempat untuk pulang. Rumah orang tua saya ada halamannya, di buku-buku yang saya baca dan anda baca pun ada. 

Next, sesuai judul post. Kali ini saya akan membahas tentang partner terbaik saya selama saya masih menduduki bangku kuliah.

Rabu, 01 Juni 2016

SENNA

Hello everybody~

Aang kembali setelah hibernasi cukup panjang. Oh, saya ini spesial ya, disaat siamang lain musim kawin, jerit-jerit genit, saya, siamang ala-ala(?) tetep stay cool sambil baca novel. Belum.. Belum kok! Minat baca saya masing jongkok, tapi mending lah gak tengkurep lagi. Yay!

Oke, kenapa judul post saya Senna? 
Apa itu Senna?
Sennada cinta bersemi di antara kita? 
Sennamat malam duhai kekasih? 
Sennangnya hatiku turun panas demamku? 
Senna gak gitu deh~


Tebakan paling banyak pasti mengira Senna adalah nama dari seseorang. Tet tot.. Bener kok Senna ini nama orang, tepatnya nama satu tokoh yang berada di dalam novel sekaligus judul dari novel tersebut. Tokoh nyaris sempuna tanpa cacat ini merupakan buah pikiran brilian seorang wanita dewasa yang mengaku berumur 19 tahun, tahun kemarin, tahun ini, tahun, depan dan tahun-tahun berikutnya. Inilah ulang tahun yang sesungguhnya. Iya kan mbak?

Sebelum kita membahas Senna, ada baiknya kita berkenalan dengan penciptanya. Mbak Kincirmainan. Nama pena ini pasti sudah gak asing  lagi di telinga para fujo Indonesia. No! No! No! Saya bukan fujo ya, saya cuma siamang betina yang kalo bahasa sombongnya, berpengetahuanlah nyahahahahaaa.. Jadi awal mula saya tahu mbak Kincirmainan ini di wattpad. Saya pernah post tentang wattpad kan?
Gak banyak yang bisa saya bicarakan tentang mbak Kincirmainan ini. Sampai saat ini doi masih belum membuka kedoknya yang cantik jelita. Iya, tidak hanya usia, wajah dan kelamin Kincirmainan ini masih misterius kok. Terus kenapa saya panggil mbak? Ya ampun, lupa? Cita-cita saya kan jadi detektif nyahahahaaa..