Selasa, 15 Maret 2016

Meukeutop

Selamat Selasa~

Hay, saya update. Gak lama kan? Tumben..

Jadi gini, ada hal menarik dari salah satu kliping yang saya sobek. Mengenai kebudayaan di Aceh. Jadi salah satu warisan budaya yang ada di Aceh adalah kupiah Meukeutop. 

Gak tau kupiah Meukeutop?

Maklum. Saya aja baru tau ini barusan. Gak gaul ya kita? Tapi kalian pasti tahu Panglima Polim kan? Iya, nama jalan. Nama jalan yang diambil dari narma pahlawan dong! Gak tau Panglima Polim juga? Nilai sejarahmu pasti jelek ya? Dan itu artinya kamu payah! Hahahaa..

Jadi Panglima Polim adalah pahlawan nasional yang berasal dari Pidie Aceh. Nama Panglima Polem sendiri merupakan sebutan (atau gelar mungkin ya) secara turun menurun. Jadi jangan kaget kalau nama panglima Polem tidak hanya dimiliki oleh satu orang saja. Kalau kita searching di google dengan memasukan keyword 'panglima polim' maka akan banyak muncul gambar/photo bapak-bapak berkumis yang mengenakan kacamata bulat ala Harry Potter serta mengenakan kupiah Meukeutop. 
Nah.. yang tadi gak tau kupiah Meukeutop apa. Itu loh, yang di pakai panglima Polim di photo, yang pastinya pernah kita liat di dinding kelas sewaktu sekolah dasar. 



Konon kupiah meukeutop ini sudah ada sejak jaman Sultan Ali Mughayat Syah. Gak tau lagi ini siapa? Coba buka lagi buku sejarahnya, pas bagian kerajaan islam, terus cari deh Kerajaan Aceh, liat siapa nama Raja pertamanya? Sultan Ali Mughayat Syah? Entahlah, saya juga enggak yakin, toh nilai sejarah saya juga gak bagus-bagus amat. Jadi setelah membaca ini dan kamu benar-benar membuka buku atau benar-benar mencari tahu siapa raja pertama Aceh, kasih tahu saya ya? Siapa tau saya salah hehehe. 

Oke, sekilas tentang kupiah meukeutop ya.. Kupiah meukeutop adalah topi tradisional khas Aceh. Meukeutop digunakan sebagai salah satu perlengkapan pakaian adat kaum pria. Dipakai ketika upacara adat maupun peringatan seremonial tertentu. Kupiah meukeutop terbuat dari kain berwarna dasar merah dan kuning. Kain dirajut jadi satu, berbentuk lingkaran. Pinggiran bawah kupiah, terdapat motif anyaman dikombinasikan warna hitam, hijau, merah dan kuning. Anyaman serupa terdapat di bagian tengah yang dibatasi lingkaran kain hijau di atasnya dan kain hitam di bawah. Motif merah bermakna kepahlawanan, kuning bermakna kerajaan, hijau agama, hitam ketegasan dan putih kesucian. 
Secara keseluruhan, kupiah meukeutop terbagi menjadi empat bagian. Sama seperti pada warna, tiap bagian ini juga memiliki arti tersendiri. Bagian pertamabermakna hukum, bagian kedua bermakna adat, bagian ketiga bermakna kanun (ini artinya apa ya?), bagian keempat bermakna reusam (ini lagi apa artinya? just information ya, untuk paragraf ini saya copas dari sini).

Kalau diperhatikan, bentuk kupiah meukeutop mirip dengan kupiah sufi ala Turki ya? Yups, mungkin adanya difusi, akulturasi, asimilasi budaya lokal dengan budaya asing. Tau sendiri kan bagaimana saudagar muka-muka Arab jaman dahulu menyerbu nusantara. But, keep calm! Gak sampe ada culture shock di sini. Walaupun mirip kupiah sufi, kupiah meukeutop benar-benar mempertahankan warna kebesaran kerajaan Aceh. Kuning merah hijau hitam. God, rasta banget ya warna kerajaan Aceh ini? Mana Aceh terkenal marijuananya, is considered sacred and is often referred to as the wisdom weed or holy herb. Oh, curiga ni, jangan-jangan holy land para rastafari berada di Aceh, em? 

Kembali ke meukeutop..

Meukeutop terbuat dari bahan dan pewarna alami, dalam membuatannya pun membutuhkan waktu yang cukup lama. Maka gak heran dong jika harganya mahal, sekitar........ entahlah, mungkin 200k-400k atau lebih. 

Sekian dulu, takut ketahuan bos saya mah~
Ntar dibilang ngeblog mulu, padahal kan eng.. Iya bentar doang..
Semoga bermanfaat ya? 



Salam budaya,
Aang SiAmang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar