Selasa, 12 Juli 2016

Jimmy, My Beloved Partner

Huaaaaaah.. Efek gak mudik, bawaannya mengenang masa-masa lalu di kampung halaman.

Actually, saya gak punya kampung halaman sih. Tempat kelahiran cuma numpang, di suatu pulau yang bukan pulau asal dari kedua orang tua saya. Kedua orang tua saya pun berasal dari pulau yang berbeda. Ya ampun, gak kebayang deh, kalau Indonesia ini terpecah-belah dan masing-masing minta merdeka. Saya harus ikut yang mana, em?
But, calm.. Indonesia akan tetap satu, dengan kebudayaan melimpah di banyak pulau, suku, dan agama sekalipun. Walaupun saya gak punya kampung halaman, saya masih punya tempat untuk pulang. Rumah orang tua saya ada halamannya, di buku-buku yang saya baca dan anda baca pun ada. 

Next, sesuai judul post. Kali ini saya akan membahas tentang partner terbaik saya selama saya masih menduduki bangku kuliah.


Perkenankan saya mengenalkan partner terbaik yang pernah ada.


Namanya Jimmy.
Saya tetapkan gendernya jantan.
Se-makhluk naturalisasi dari Jepang.
Usia sebenarnya tidak diketahui.
Penyuka BBM bersubsidi, walau kadang saya manjakan dengan pertamax ketika stock bensin di pom habis atau saya lagi malas mengantri ketika antriannya teramat sangat panjang.

Si Jimmy ini selalu setia menemani masa-masa kuliah saya.

Berawal dari ajakan Bos Besar ke suatu tempat. Ke mana? Entahlah, kebiasaan Bos Besar kita (kita maksudnya saya beserta kakak-kakak) ini selalu memberi kejutan dari jaman saya kecil bahkan sampai sekarang. Kalau beliau berkata, 
"Siap-siap habis ini kita pergi" 
Maka bakal ada kejutan yang akan diberikan. Jangan sekali-kali bertanya kemana? ngapain? dan semacamnya, pasti si Bos tidak bakal mau memberi tahu. 
"Udah ikut aja"
Jawaban itulah yang selalu diberikan, maka sebagai anak yang mempunyai otak yang lumayan bisa dipakai walau ala kadarnya, kita tidak lagi berulang kali menanyakan hal yang sama. Kalau disuruh siap-siap ya siap-siap. Siap-siap dalam arti sebenarnya dan siap-siap mendapat kejutan :)

Lanjut, my Boss ternyata mengajak ke bengkel tempat temannya. Di sana ada Jimmy, oke saat itu juga saya memberikan nama Jimmy pada honda impresa bernomor polisi 'AB sekian-sekian-sekian-sekian TS' (Maaf, bukan maksud untuk sok misterius menyembunyikan nopol Jimmy, tapi saya memang kurang bisa menghapal angka XDD). Ya, walaupun Jimmy bukan barang baru, tapi saya sangat bersyukur, berterimakasih kepada Tuhan YME, terimakasih kepada Ayah sekaligus Bos besar saya yang telah membelikannya, terimakasih kepada Ibu yang ternyata beliaulah yang menghasut sang Bos untuk membelikannya, terimakasih kepada kaka-kakak saya yang sudah menjadi kakak-kakak yang baik, terimakasih kepada temannya bos yang mau menjual Jimmy pada Bos, terimakasih kepada tetangga-tetangga saya karena tetangga merupakan bala bantuan terdekat, terimakasih kepada teman-teman saya yang kadang turut serta mengisikan bensin, terimakasih kepada orang-orang yang tidak dapat disebutkan satu per satu disini. Terima kasih..

Akhirnya selama kuliah, yang rencananya saya bakal selalu menggunakan angkutan umum dimudahkan dengan adanya Jimmy. Walaupun gak jarang juga sebetulnya Jimmy ngelunjak. Tiba-tiba ban bocor, tiba- tiba mogok, tiba-tiba minta servise. Normal lah, namanya juga motor. Ada kalanya saya gak bawa kunci busi, entah kunci hilang ke mana? Pada masa-masa itu Jimmy amat sangat sering mengerjai saya. Mulai mogok di lampu merah pas garis marka. Di sini yang bikin sewot bukan Jimmynya tapi pengendara lainnya, udah tau si Jimmy mogok kok ya napsu banget mainin klakson? Asal tau saja saya gak bakal mempercepat menuntun Jimmy ke pinggir, bukan karena Jimmy berat tapi yah saya berusaha untuk nikmati bunyi klakson biar pemain klakson gak kecewa #plak -_-
Jimmy merajuk paling sering waktu hujan dan air menggenang. Yah, ketika hujan deras Jogja tidak terhindar dari banjir sob. Mogok di lampu merah emang yang paling merajai topchart pundungnya Jimmy. Tapi yang bikin hati saya tetep adem, selalu aja ada orang yang mau-maunya membantu saya. Jogja berhati nyaman, yes! 

Pernah pada suatu masa, saya dan Jimmy berkali-kali jatuh bersama. Kecelakaan saat berkendara gitu deh. Sampai seorang teman yang kebetulan pernah saya ajak untuk jatuh bersama mengatakan Jimmy kudu diruqyah muahahahahahahaaaa kalau saya mengingat ini ngakak terus dah. 
"Motor diruqyah gimana?"
"Dimandiin kembang gitu deh."
"Ya elah, saya aja jarang mandi buat hemat sabun, ini motor mau dimandiin pake kembang?" Just information ya, kembang itu bukan sesuatu yang murah dan saya bukan tipe mahasiswa tukang nadah tangan aja ke orang tua. Meh! 

Dan saya lupa akhir pembicaraan kita seperti apa. Namun yang jelas, mana mau saya yang notabene terlahir sebagai manusia modern yang modis #plak dan trendi #plak ini melakukan hal yang berbau klenik macam itu. Big no no lah!
Menurut analisa seorang pengamat, memang saya sedikit serampangan dalam mengendarai Jimmy. Sedikit. Sedikit yang beneran sedikit gitu. Toh dari sekian banyak kejadian, jarang ada meninggalkan luka baik di saya maupun di Ji- Oh, Jimmy yang biasanya mendapat luka lumayan parah. My Godness, jangan-jangan selama ini Jimmy berkali-kali berkorban untuk melindungi saya? Oops, saya masih manusia modern lho ya, boleh dong jadi manusia modern yang penuh imajinasi?

Jimmy, thanks ya buat selama ini. Saya masih inget aja loh waktu Jimmy mendadak jadi pacar muahahahahaa.. Jadi gak semua teman saya tahu Jimmy, beberapa tahu, kebanyakan tidak. Ketika saya cerita Jimmy gini, Jimmy gitu dikira saya cerita cowok coba. 


"Sama siapa?"
"Sama Jimmy."
"Loh mana sekarang?"
"Di parkiran."
"Ya ampun, disuruh nunggu di parkiran?" saya ngangguk aja. Gak lama langsung deh tangan saya digeret ke parkiran.
"Mana?"
"Nih!"
"Kampret! Ini Jimmy?" saya ngangguk.
"Lu kasih nama motor lu?" saya ngangguk lagi dong.
"Amsyong, jadi selama ini Jimmy motor?" lagi-lagi saya ngangguk.
Dan kemudian temen saya ngakak, sedangkan saya masih ngangguk-ngangguk gaje. 
Ya ampun Jimmy, ternyata hubungan kita dianggap lebih dari partner oleh temen-temen sedeng yang suka ngambil kesimpulan seenak wudelnya itu muahahahahaaa..

Jimmy...
Suka duka kita lewati bersama
Walau terakhir bertemu kau selalu memberikan duka, emang banyak dukanya sih..
Tapi,
It's Okay!
Mengingat pengorbanan yang kau berikan padaku
Thank you sooooooooo much~
Kau bahkan ada dalam ucapan terimakasih di skripsiku (yang ini mengada-ada, karena waktu ngetik saya tiba-tiba amnesia, kalo Jimmy itu ada XDD)

Ciao~ 

PS: mumpung masih bulan Syawal, sekalian saya ucapkan 
Taqobbalallahu minna wa minkum. Selamat Lebaran 1437H. 
Maaf batin dulu, lalu kemudian maafkan saya yang terlahir kece ini ya~

2 komentar: