Jumat, 30 Oktober 2015

Obrolan Siang

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen 'Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan' #SafetyFirst 
Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com.





Cekidot~




Suasana di kantin lumayan ramai, Bagus dan Andi duduk menurunkan nasi yang telah mereka makan sembari mengobrol.

“Ngomong-ngomong polisi sini baik-baik ya?” Bagus memulai pembicaraan setelah meneguk habis air minumnya.

“Apanya? Kemarin aku habis dua ratus ribu ditilang.”

“Wah, mana belum gajian.. Kok bisa Ndi?”

“Jadi kan ada razia, keluapaan enggak bawa STNK.”

“Gak lagi diperpanjang, ato balik nama, ato opo kek buat alasan gitu?”

“Gak kepikiran bro, hehehe..” kekeh Andi sambari menyulut rokok. “Lagipula aku kan jujur, salah sendiri sih gak bawa, apesnya kena razia. Yo wes lah,” lanjutnya setelah mengebulkan asap rokoknya ke udara. “Terus polisi sini baik-baik tadi kenapa?”

“Berangkat tadi aku lihat ada pengendara motor gak pakai helm, parahnya gak cuma satu atau dua pengendara, padahal di bangjo ada pos polisi lho, ada polisinya juga, lha dalah di diemin aja, kalo di Jawa pasti udah didatangin, dikejar, dan berakhir diceramahi panjang sama polisinya,” jelas Bagus panjang dengan logat medhoknya.

Bagus ini asli Jogja. Dia merantau ke Kalimantan, awalnya tidak ada pikiran untuk mencari rejeki di tempat yang bahkan terpisahkan oleh luasnya samudra, namun mau bagaimana lagi rejekinya malah di sini, ya di syukuri saja. Oh, iya dia masih baru di Kalimantan, baru sekitar seminggu lalu dia sampai untuk pertama kalinya di pulau ini. Tidak hanya masalah keselamatan berlalu lintas yang dia herankan. Tentu saja yang membuatnya terkaget-kaget untuk pertama kalinya adalah masalah harga yang terpaut amat sangat banyak dengan daerah asalnya. Terutama makanan, bahkan Bagus sempat ternganga di depan penjual nasi goreng pinggir jalan yang memberinya harga seperti di restoran paling mahal di Jogja. Setelahnya dia langsung menghabiskan nasi goreng itu tanpa bersisa satu butirpun.

“Opo maneh Gus? Kok semangat men le cerito?” Eko menghampiri mereka dan bergabung duduk bersama.

“Iki lho mas Eko, polisi kene apik-apik kabeh. Mosok wong ngango motor ora nganggo helm dinengke wae, nek nang Jowo mesti dioyak to mas karo polisine?” Bagus bebicara dengan bahasa Jawa dengan senior yang juga berasal dari Jawa.

“Hahahaaa... Aku biyen yo gumun kok Gus. Saiki wes ora, malah aku yo kadang ora nganggo helm, hahahaa..” Eko tertawa.

“Walah mas Eko ki!”

“In Indonesia, please?” Andi yang orang asli Kutai tidak tahu menahu omongan kedua teman Jawanya itu meminta pencerahan.

“Gini lo, Ndi. Mas Eko mosok ya ngikut gak pakai helm gitu gara-gara polisinya baik. Kan helm ki penting tho, biar gak kenapa-napa tho ya,” Bagus berusaha menggunakan bahasa Indonesianya yang belepotan untuk menjelaskan pada Andi.

“Iya sih, biasa di sini gitu. Polisinya galak kalau lagi razia aja, kalo enggak ya terserah pengendara lah mau jungkir balik ya polisinya gak peduli, tapi gak semua polisi begitu loh ya?” Andi meralat pendapatnya sendiri.

“Kok gitu yo? Kemarin sempat lihat orang bonceng motor bawa helm, beneran dibawa jal, enggak dipakai di kepala, malah di taroh di dengkul. Nek pingin ngelindungin dengkul kenapa gak pakai pelindung dengkul ae yo?” Bagus berdecak.

“Aku lho, sempat kebawa kebiasaan di sini begitu pulang ke Jawa,” kali ini Eko yang berkomentar.

“Pripun mas? Gimana?” Bagus menggunakan bilingual medoknya.

“Pas mudik kemarin, aku bawa motor gak pakai helm. Eh dicegat polisi. Mau ngeles ‘deket aja kok pak cuma di ujung jalan situ’ gak mempan.”

“Iya tho, polisi sini baik-baik,” komentar Bagus.

“Yang bener malah yang begitu ya, bukannya polisi yang baik yang selalu mengingatkan masyarakat” Andi geleng-geleng kepala menanggapi komentar Bagus.

“Tapi yang lebih bikin heran itu bukan polisi atau penggunaan helmnya,” suara Eko terdengar serius. “Heran sekarang banyak banget anak di bawah umur sudah berani-beraninya mengendarai motor,” lanjutnya.

“Ah, iyo.. Tetanggaku lho masih SD udah motor-motoran keliling kampung, kadang boncengan langsung bertiga, berempat. Gak pakai helm maneh,” Bagus ikut berwajah serius.

“Orang tuanya pada kemana itu ya? Bisa-bisanya ngebiarin anaknya bawa motor,” komentar Andi.

“Nah, kadang orang tuanya malah nyuruh si anak belajar motor, padahal belum cukup umur. Alesannya biar bisa disuruh pergi ke warung lah, kan enggak di jalan besar lah, biar kekinian lah, parah!” Eko menyahuti.

“Hahaha orang tua yang aneh, tapi memang kebanyakan orang tua yang biasa manjain anaknya begitu ya. Gak tegaan sama permintaan anak, tapi kadang malah lupa sama keselamatan,” Andi tertawa sedangkan Bagus hanya manggut-manggut paham.

“Dikiranya kalau kecelakaan motor udah pasti di jalan besar, tolong deh, namanya kecelakaan gak mesti terjadi di jalan raya tho? Kalau Tuhan menghendaki ya kepeleset kulit pisang aja bisa bikin nyawa bablas,” jelas Eko geleng-geleng kepala.

“Ah, pernah ni, anak tetangga kecelakaan, mbokne gak trimo. Marah-marah nyalahin pengendara satunya. Eh begitu di usut anaknya ngelawan arus di jalan satu arah. Jian bocah!” cerita Bagus.

“Ibunya juga salah, kenapa anaknya dibiarin bawa motor?” Andi mengomentari.

“Ya, itu tadi.. Jadi orang tua sekarang itu tantangannya banyak. Mau ngelarang anak nanti dikira pengekang, tapi dituruti yo bahaya,” Eko menerawang jauh.

“Terus gimana baiknya?”

“Udah pasti kita harus pinter dong bro, orang tua yang baik itu harus bijak. Kalau biarin atau malah kasih ijin anak bawa motor apalagi masih di bawah umur berarti orang tua itu memang gak ada bijak-bijaknya. Kalau orangtua bijak pasti bisa lah ngasih pengertian ke anaknya, tentang bahayanya, akibatnya atau malah kasih support apalah biar anaknya melakukan berbagai hal potitif tanpa memberi iming-iming motor sebagai hadiahnya. Yakin deh bro, kalau orang tua bijak pasti si anak juga gak mungkin banyak gaya berani minta ini-itu, menuntut fasilitas wah, dan sebagainya,” celoteh Andi, sedangkan daritadi Bagus mengangguk-angguk setuju.

“Yang jelas orang bijak itu gak pakai hp sewaktu berkendara,” sahut Eko.

“Lha kok? Hubungaya opo mas?” tanya Bagus.

“Sekarang lho banyak dipasang baliho-baliho kampanye tertib, aman dan selamat berkendara, salah satunya tidak menggunakan hp selama berkendara. Orang bijak pasti mengerti gak cuma orang bijak sih, semua yo pasti tau lah, tapi masih ada aja yang ngeyel. Padahal mereka sudah dewasa tho?”

“Mungkin mereka punya konsentrasi yang bisa dibagi-bagi mas,” Bagus komentar geje.

“Ya, tapi kan mereka udah dewasa tho Gus, harusnya kan ngasih contoh yang baik lah buat anak-anak muda yang memulai masa-masa pergalauan itu.”

“Bener bro, em, jangan-jangan si Bagus ini juga sering main telpon sambil berkendara?” Andi mengangkat kedua alisnya melihat ke arah Bagus, sedangkan yang dilihat hanya cengengesan saja. Mungkin membenarkan?

“Terus juga, kalau berkendara di jalan jangan terlalu ngebut Gus, apalagi di Kalimantan ini,” Eko kembali berujar.

“Lha ngopo mas? Eh, tapi aku mesti ati-ati kok, gak pernah ngebut, nek lampu kuning yo aku alon-alon kok mas,” jawab Bagus.

“Tenane?” Eko mengomentari Bagus yang berhati-hati ketika lampu berwarna kuning karena biasanya orang-orang malah mengartikan warna kuning sebagai perintah untuk menambah kecepatan agar tidak terkena lampu merah. “Nek mau ngebut di sini susah, jalannya rame, wes  ngono gak semua jalan aspalan alus Gus,” lanjut Eko.

“Hahaha.. iya bro, kebanyakan remaja sini kecelakaan gara-gara belagak jadi pembalap di sirkuit Sepang, padahal medannya di sini cocok buat off-road,” Andi menanggapi.

“Walah, kalo gitu besok tak beli motor trail wae yo?” Bagus memang berencana mau membeli motor.

“Jangan!” seru Eko dan Andi bebarengan.

“Lha ngopo mas?” Bagus memasang wajah bingung.

“Berisik! Suaranya bikin pusing,” kata Andi.

“Asepnya gak nguati Gus,” Eko berpendapat.

“Lha terus?”

“Motor biasa wae, sakarepmu lah sing bahan bakarnya tahan lama tur perawatannya yo gak ribet.”

Tiba-tiba Dede datang bergabung dengan wajah tidak bersemangat. Duduk tanpa menyapa terlebih dulu pada pendahulunya yang sudah duduk di meja kantin.

“Kenapa De?” tanya Eko, orang paling senior di antara mereka.

“Kurang asem kok Cecep tuh mas, dia nikung aku!”

“Gayamu De, kayak pembalap MotoGP aja,” komentar Andi namun langsung bungkam karena di pelototi Dede dengan mengerikannya ala-ala Susana.

“Gini loh mas, tadi di pengkolan dekat gerbang itu Cecep nyalip sambil ngebel panjaaaang banget, heboh gitu, ya aku yang sensitif ini pasti kaget lah, motor aku hampir jatuh tauk. Untung keseimbangan aku bagus banget jadi aku gak jatuh, eh Cecep malah ngakak di motornya sambil terus jalan. Gak ada minta maafnya. Huh!”

Oke, Dede ini sedikit lebay, dan yang pasti Dede ini cerewet bahkan mengalahkan perempuan.

“Untungnya ya aku bukan Vallentino Rossi, coba kalau aku kayak dia pasti udah jatuh dia aku tendang,” lanjutnya. “Huh, aku doain dia kecelakaan di jalan, terus aku photo, aku upload di facebook dan pasang status ‘doakan orang ini biar masuk surga’, sambil nyuruh orang-orang komentar amin. Huh, kurang baik apa aku ini? Masih mau-maunya doain dia masuk surga,” kata Dede panjang lebar.

“Ya ampun De, ati-ati lho nek ngomong ki. Omongan itu doa, nanti kalo kejadian beneran  kan serem tho,” Bagus mengomentari pertama kali sambil bergindik ngeri.

“Iya, parah lu bro, kalo ada kecelakaan itu tolongin kek, eh, ini malah update status,” Andi kembali geleng-geleng kepala.

“Nah ini ni. Satu lagi orang yang gak bijak. Mungkin pikiran orang yang upload photo di facebook itu baik, mau ngasih info misalnya, mau mengingatkan orang-orang agar lebih berhati-hati dalam berkendara, atau mendoakan dengan niat yang benar-benar baik. Tapi tetep aja, gak pantas photo-photo mengerikan begitu di share di jejaring sosial,” Eko berbicara tidak kalah panjangnya dengan Dede. “Coba bayangin kalau misalnya kamu diposisi korban yang diphoto, photomu terpajang di wall facebook peng-upload, belum lagi puluhan orang nge-share dan terus tersimpan selama bertahun-tahun, suatu saat keluargamu melihatnya lagi, muka dan badan kamu yang berantakan akibat kecelakaan gimana perasaan keluarga kamu lihatnya...”

“Stop! Stop! Udah mas Eko, aku gak bisa bayangin, pasti keluarga aku sedih banget huhuhu,” Dede yang memang dasarnya perasa kini mulai menangis lebay. “Lagian aku gak serius ya, bercanda aja tadi hiks,” lanjut Dede.

“Bercanda juga harus pilih-pilih bahan kali De, gak pantes kecelakaan dijadiin bercandaan,” tambah Andi.

“Lho itu Cecep!” Bagus menunjuk seseorang yang kini juga berjalan menghampiri mereka.

“Weh, Dede kenapa nih?” tanya Cecep heran melihat Dede terisak gaje.

“Gara-gara kamu ini, tadi pagi kamu nikung dia tho?” Bagus antusias bertanya.

“Hah?”

“Nyalip sambil ngagetin Dede! Bahaya lo itu Cep,” Andi mengingatkan.

“Weh, salah siapa disapa gak tau-tau. Ternyata dia pake headset saat berkendara, ya tak pepet aja sambil ngebel,” jelas Cecep.

“DEDE!” serempak Eko, Andi dan Bagus berteriak. Sedangkan Dede hanya meringis ngeri menanggapinya.


~END~

2 komentar:

  1. Kalo di Jogja sih nggak cuma dikejar, malah kayak lagi balapan sama polisinya :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyes~
      pernah balapan ya sama polisi jogja? XDD

      eh, tapi pesepeda itu penguasa jalan kak?

      Hapus