Selasa, 13 Desember 2011

Wanita-Wanita yang Mengubah Dunia ----- *Joan of Arc

Judul: Wanita-wanita yang Mengubah Dunia
Penulis: Rosalind Horton & Sally Simmons
Penerjemah: Haris Munandar, MA
Halaman: 232 halaman
Kertas: Matte Paper 100
Cover: Hard Cover dengan Sampul
Tahun Terbit: 2009
 
Ini buku gua baca sekilas di World Bank Corner di Perpustakaan UGM. (ceile ketahuan gak ya dimana gua kuliah?? Bukan! bukan di UGM, ni cuma mampir perpusnya aja..) Pingin punya, tapi apa daya.. membaca saja saya sulit apalagi keduitan yang enggak mendukung hiks..

Sebenernya apa sich devinisi wanita itu? Sama nggak ya dengan perempuan? Nah lo..
Di wikipedia ternyata wanita:   

Wanita adalah sebutan yang digunakan untuk ''homo sapiens'' berjenis kelamin betina. Lawan jenis dari wanita adalah pria. Wanita adalah kata yang umum digunakan untuk menggambarkan perempuan dewasa. Perempuan yang sudah menikah juga biasa dipanggil dengan sebutan ibu. Untuk perempuan yang belum menikah atau berada antara umur 16 hingga 21 tahun disebut juga dengan anak gadis. 

Dari sekian banyak wanita (kayaknya lebih dari 50 wanita) yang ada di buku ini, gua tertarik sama Jeanne d'Arc. Kenapa dia masuk dalam kategori wanita? Jelas dia single belum berkeluarga, pada waktu kematiannyapun usianya belum ada 20 tahun.. Um, jadi inget dulu gua kagak ngerti ini orang siapa? sampai gua maen Age Of Empire 2, misi penyelamatan Joan of Arc ahihihi..

Joan of Arc adalah simbol ksatria Prancis, Dialah prajurit wanita yang namanya menyeruak di dunia kemiliteran dunia. Seorang gadis anak petani di perbatasan Propinsi Champagne dan Lorraine. Masa kecilnya dihabiskan di ladang membantu ayahnya,  dari sang ibu mendapat pendidikan agama yang kuat serta ketrampilan mengurus rumah tangga.

Memasuki usia remaja, 12 tahun, Joan merasa mendapat pemcerahan/vision dari orang-orang suci utusan Tuhan; St. Michael, St. Catherine, dan St. Margaret. Mereka mengabarkan bahwa sekaranglah saatnya bagi Joan untuk membebaskan negerinya dari cengkeraman Inggris dan membantu putra mahkota untuk merebut kembali tahta Kerajaan Prancis. Ketiga orang suci itu juga menyuruh Joan untuk memotong rambut panjangnya, mengenakan seragam tentara lelaki dan angkat senjata melawan Inggris.

Tahun 1492 Inggris dengan bantuan sekutunya Burgundi berhasil mencaplok Paris dan seluruh Perancis Utara mulai dari Loire. Perlawanan waktu itu sangat minim akibat kepemimpinan yang payah dan adanya perasaan putus asa di kalangan prajurit. Henry VI dari Inggris mengalahkan Perancis dan mengambil alih kerajaan.
Joan mendatangi kapten angkatan perang putra mahkota. Kepada sang kapten dan putra mahkota, Joan berjanji akan meraih kemenangan di bawah komandonya. Ia juga menceritakan mengenai “panggilan” para orang suci yang ia terima. Setelah melalui ujian oleh suatu badan yang terdiri dari sekelompok pemuka agama, Joan diberi pasukan dan diberi pangkat kapten.

Pada Perang Orleans bulan Mei 1429, Joan memimpin pasukannya dan secara mengejutkan, boleh dikata secara ajaib, berhasil mengalahkan Inggris. Dia melanjutkan peperangan melawan musuh di sepanjang perbatasan Loire. Kegagahan pasukan Joan membuat musuh ciut nyalinya. Mereka bertempur tak kenal takut, layaknya pasukan dari langit. Sehingga sewaktu dia mengincar pasukan Lord Talbot di Patay, kebanyakan pasukan Inggris dan Commander Sir John Fastolfe menyerah dalam pertempuran. Fastolfe kemudian dicap sebagai pengecut oleh atasannya. Walaupun Lord Talbot berhasil mempertahankan tanah kekuasaannya, dia kalah dalam pertempuran itu dan ditangkap bersama seratus bangsawan Inggris dan kehilangan 1800 tentara.

Charles VII kemudian diangkat menjadi raja Perancis pada tanggal 17 Juli 1429, di Katedral Reims. Pada saat pentahbisan raja, Joan mendapat tempat kehormatan setelah raja. Joan diberi penghargaan karena berjasa terhadap negerinya.

Pada tahun 1430, Joan tertangkap oleh pasukan Burgundi sewaktu mempertahankan Compeigne, dekat Paris, lalu dijual kepada Inggris. Pihak Inggris lantas menyerahkannya untuk diadili di pengadilan gereja Rouen yang dipimpin oleh Pierre Cauchon, seorang pendeta yang pro-Inggris di Beauvais. Joan dituntut dengan pasal sebagai tukang sihir dan melawan norma agama, melanggar hukum Tuhan, karena berpakaian lelaki.

Setelah diinterogasi selama empat belas bulan, pada tanggal 30 Mei 1431, Joan of Arc si gadis petani yang gagah berani dan sangat berjasa itu dihukum bakar sampai mati di tengah pasar Rouen. Usianya baru menginjak 19 tahun ketika itu. 
Terus gimana dengan putra mahkota Charles VII yang pernah ditolongnya hingga mencapai singgasana Prancis? Raja itu tak melakukan apa pun untuk membebaskan gadis pahlawan ini.

Pada tahun 1456 dilakukan persidangan kedua. Joan dinyatakan tidak bersalah atas semua tuduhan yang ditimpakan padanya. Butuh waktu lebih dari empat ratus tahun untuk benar-benar “mensucikan” nama Joan. 
Tepatnya pada tahun 1920, Paus Benedict XV secara resmi memberinya gelar kehormatan.

2 komentar:

  1. seperti kisah Mulan tapi dengan sad ending ya..

    BalasHapus
  2. iya nih re_here, tragis endingnya >.<

    BalasHapus