Kamis, 26 September 2013

Please Don't

“Kami akan menikah”

Yoga merasakan perih di dada sebelah kirinya semakin menjadi. Kakinya melemas seolah-olah langit langsung runtuh menjatuhinya tanpa memberi pertanda sebelumnya. Walaupun kepalanya kini tertunduk, Yoga berusaha sekuat tenaganya untuk tetap berdiri tegak. Dan itu sangat melelahkan.

“Tapi, tidakkah kalian mengambil keputusan terlalu cepat?”

Kali ini dia memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap pasangan yang saling merangkul mesra itu berdiri dihadapannya. Suara Yoga terdengar sedikit bergetar. Susah sekali berusaha bicara seperti biasa dengan menahan rasa sakit yang semakin menggila di dadanya.

“Tidak baik menunda-nunda pernikahan kan? Lagipula kedua keluarga besar juga sudah setuju”

Sahabat sekaligus teman satu kontrakan Yoga, kini tersenyum hangat pada perempuan dalam rangkulannya. Begitu pula gadis cantik itu, tersenyum bahagia menatap pasangannya. Yah mereka berdua terlihat bahagia.

Andi, sejak dua tahun ini menjadi teman satu rumah Yoga. Pertemuan yang tidak direncanakan sebenarnya, dahulu mereka berebut kontrakan rumah yang pada akhirnya pemilik rumah menyarankan agar mereka tinggal bersama saja sekaligus menghemat biaya hidup masing-masing. Andi sudah bekerja sementara Yoga masih kuliah. Sama dengan pertemuan mereka, pertemuan Andi dengan calon istrinya, Rika, juga tidak direncanakan. Bahkan Yoga menyesalkan kejadian itu. Yah, dialah yang mengenalkan Rika pada Andi, hanya sekedar mengenalkan sahabat kecilnya pada sahabat dewasanya, tidak ada maksud untuk membuat mereka berdua saling jatuh cinta. Tapi takdir berkata lain. Mereka saling jatuh cinta dan tanpa mereka sadari seseorang tersakiti.

“Dengan wajah tampan dan tubuh yang bagus mudah saja bagi Andi untuk membuat wanita manapun jatuh cinta padanya. Tapi dari sekian banyak perempuan cantik di luar sana kenapa mesti Rika?” 

***

 “Cih, kenapa kau tidak minta ditemani calon suamimu itu?”

Tak henti-hentinya mulut Yoga meluncurkan omelannya, sedangkan tangannya berpegang pada kemudi, matanya tetap konsenterasi menatap jalan, sesekali ditatapnya Rika yang duduk di sebelahnya. Sesekali? Tidak terlalu sering dia mencuri pandang ke arah gadis cantik itu.

“Berapa kali harus ku bilang Ga? Andi sedang sibuk akhir-akhir ini, dia lembur”

“Lagipula sudah lama kita tidak berkencan hanya berdua kan?” lanjutnya tertawa sambil mengedipkan sebelah matanya. 

Yoga menoleh ke arah juniornya sejak Sekolah Dasar itu hingga saat ini menjadi juniornya di Universitas, mengulurkan sebelah tangannya mengacak gemas rambut panjang nan indah milik Rika. Kemudian tertawa setelah melihat cibiran dari bibir sang gadis setelah mendapat perlakuan yang dianggapnya menjengkelkan.

Tak lama kemudian Yoga mematikan mesin mobilnya yang telah terparkir. Memutar sedikit badannya menatap Rika yang sedari tadi masih setia memanyunkan bibirnya dengan sebagian rambut panjangnya menutupi wajahnya.

“Sampai kapan kau mau berpenampilan seperti Sadako eoh? Rapikan rambutmu, kita sudah sampai!”

“Kau yang membuatnya berantakan, tanggung jawab!”

Kali ini Rika mensedekapkan(?) kedua tangannya, cibiran yang sedari tadi masih setia bertahan kini bertambah maju beberapa milimeter. Gadis itu merajuk. Yoga menghela napas panjang kemudian tersenyum, hafal akan sikap Rika yang sedikit egois. Kemudian dia mendekati juniornya, menyingkap rambut panjang yang menutupi wajah cantiknya. Tidak sengaja Yoga menyentuh kulit wajah Rika yang sangat lembut dan putih tanpa cacat.  Untuk sesaat Yoga mengagumi wajah juniornya itu. Tetapi seketika, dada kiri Yoga terasa amat perih begitu melihat bola mata hitam pekat milik Rika memandangnya dengan penuh arti. Ya, pandangan mereka saling bertemu.

“Awwwww, sakit Yoga bodoh!” tampak Rika mengelus-elus keningnya.

“Itu karena kau tidak mau merapikan rambutmu sendiri” jawab Yoga tersenyum, lalu turun dari mobilnya disusul oleh Rika yang masih mengelus-elus keningnya yang menjadi korban sentilan Yoga yang lumayan keras.

“Kenapa belakangan ini kau sering sekali menganiayaku sih? Padahal sangat jarang kita bertemu, tetapi setiap bertemu kau selalu menganiayaku” protes Rika.

Yoga tidak menanggapi ocehan gadis cantik yang berjalan di sebelahnya. Memang belakangan ini kedua sahabat berbeda gender ini sangat jarang bertemu, bukan karena jadwal mereka yang sangat padat sehingga tidak bisa bertemu, tetapi salah satu selalu berusaha menghindari lainnya. Ya, Yoga belakangan ini selalu menghindari Rika. Saat inipun dia sebenarnya sangat enggan menemani Rika, kalau saja Rika tidak menunggu dan mencegat dan menariknya paksa di kampus mungkin sekarang dia sedang tidur dengan damai di kontrakannya.

Lalu kenapa Yoga selalu menghindari Rika? Dan setiap bertemu seperti kata Rika tadi, dia selalu menganiayanya. Bencikah Yoga dengan juniornya? Tentu saja tidak! Dahulu malah mereka selalu tampak bersama dan kompak, dimana ada Yoga di situ ada Rika, dan sebaliknya. Bahkan Yoga sangat menyayangi dan memanjakan Rika layaknya adik kandungnya sendiri. Sampai junior kesayangannya ini berpacaran dengan sahabat karibnya sekaligus teman satu kontrakannya, Andi, entah mengapa setiap bersama Rika dadanya terasa sesak, dan itu menyakitkan. Ng, sebenarnya, susah sekali untuk menghindari gadis cantik ini, karena kebiasaannya yang selalu mengekori Yoga belum hilang seutuhnya, terlebih kekasihnya merupakan orang yang tinggal bersama dengan Yoga. Tidak mungkin kan dia melarang sepasang kekasih bertemu? Ya untuk meminimalisir rasa sakit di dadanya dan menyembunyikan perasaan tak karuannya setiap melihat Rika-Andi bersama, maka tiap bertemu, Yoga selalu menjahili juniornya itu.

***

“Bagaimana?” Yoga terpana melihat Rika yang terlihat berkali lipat bertambah cantik mengenakan gaun putih itu.

“Jelek ya?”

Kini Rika telah berdiri di hadapan Yoga, sekali lagi meminta pendapat sahabatnya tentang penampilannya. Begitu tangan halus itu menyentuh pundak Yoga dia baru tersadar dari lamunannya, sedari tadi dia terpesona oleh kecantikan Rika.

“Ah, tidak! Sangat cocok denganmu. Andi pasti senang” Yoga tersenyum, sebuah pujian yang sangat tulus keluar dari mulutnya.

“Baiklah, aku ambil yang ini”

“Kau tidak mencoba yang lainnya?”

“Tidak, aku cocok dengan ini, lagi pula aku percaya padamu”

Setelah membeli beberapa barang, Rika mengajak Yoga makan. Sekedar untuk ucapan terimakasih karena ditemani berbelanja, namun ditolak. Mau bagaimana lagi Yoga takut jika terlalu lama bersama gadis itu dia tidak bisa mengendalikan perasaannya.

***

Setelah mengantar Rika pulang tanpa kurang apapun sampai rumahnya, Yoga segera bergegas ke kontrakannya. Begitu memasuki pintu dia dikagetkan oleh sosok laki-laki yang sedang duduk santai menghadap televisi yang menyala di hadapannya. Ya sahabat sekaligus teman satu kontrakannya, Andi.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Yoga heran.

“Aku sedari tadi di sini” jawabnya

“Bukannya kau lembur?”

“Aku libur” jawabnya setelah menggelengkan kepalanya.

“Lalu kau tidak menemani Rika berbelanja?”

“Aku yang menyuruhnya mengajakmu. Ku pikir kalian perlu waktu berdua”

“Apa maksudmu?” kini wajah Yoga berubah menjadi tegang, emosi mungkin.

“Akhir-akhir ini kau terlihat lesu, mungkin jika bersama Rika kau akan kembali bersemangat” Andi berkata datar.

“Kau.. Kau pikir Aku mencintai Rika?”

Yoga menghampiri Andi dan dicengkramnya kerah baju Andi dengan kasar. Sedangkan Andi hanya tersenyum sinis mendapat perlakuan kasar dari sahabatnya itu.

“Sebentar lagi, Aku akan menikah dengan Rika. Jadi, Kau, sekalipun itu sedikit, jangan berharap!” Andi memberi penekanan pada dua kata terakhir.

BUAKK!!

Sebuah tinju menghujam perut Andi. Cukup keras sehingga membuat sang pemilik perut meringis dan terduduk membungkuk sambil memegang perutnya.

“Kau salah paham”

Tangan Yoga masih mengepal. Melihat Andi yang kesakitan, ada sedikit penyesalan dalam diri Yoga telah memukul sahabatnya itu. Suara Yoga bergetar, matanya kini berkaca-kaca. Sedangkan Andi hanya terdiam, menengadah menatap orang yang berdiri di hadapannya.

“Aku tidak mencintainya. Memang Aku menyayangi Rika, dia bahkan ku anggap adikku sendiri. Tapi ada yang salah di sini, setiap bersamanya rasanya sakit” dengan kasar Yoga menunjuk dada kirinya.

Yoga berkata lemah, menunduk, tidak berani menatap mata Andi yang sedari tadi menatapnya. Kini dia tidak bisa menahan air mata yang mulai membanjiri pelupuk matanya dan mengalir di kedua pipinya.

“Aku tahu” 

“Rasa ini, padahal aku dulu sangat menyayanginya. Tapi setiap melihatnya Aku semakin yakin kalau sakit yang kurasakan disini adalah rasa benci. Aku membencinya”

“Aku tahu”

“Aku berusaha untuk tetap menyayanginya, tapi aku terlalu membencinya”

“Aku tahu”

“Kau tidak tahu apa-apa”

“Tidak! Akulah yang paling tahu tentangmu Yoga. Aku tahu perasaanmu...”

Andi berhenti sejenak, sekedar menarik napas untuk menetralkan egonya yang mulai tak terkendali juga.

“...padaku” katanya lirih disertai helaan panjang.

Yoga terperanjat. Wajahnya kini terangkat menatap Andi dengan mata terbelangak yang masih dipenuhi air mata.

“Kau menganggapnya telah merebutku darimu kan?” lanjut Andi

Tidak ada sanggahan, Yoga terdiam. Benar, dia mencintai Andi. Rasa sakit yang dialaminya adalah perasaan cemburu. Cemburu ketika melihat Andi dan Rika bermesraan. Membenci Rika karena gadis yang dianggapnya adik itu malah menjadi tempat berlabuh dari laki-laki yang dicintainya.

“An....” setelah diam sekian lama Yoga membuka mulutnya.

“Aku tahu. Makannya aku tidak mau kau menjadi seorang GAY!”

Yoga kembali terperanjat. Syok mendengar kata itu keluar dari mulut sahabatnya. Gay? Yang benar saja, Yoga yang mempunyai banyak penggemar dari kalangan hawa ini mempunyai kecenderungan sex yang menyimpang? Penulispun terperanjat.

“Aku bukan gay” Yoga kembali emosi dan ajaib air matanya sudah tidak kelihatan lagi.

“Lalu kau sebut apa laki-laki yang mencintai sejenisnya?” Andi ngotot.

“Aku bukan gay yang selalu jatuh cinta pada laki-laki, yang aku cintai  HANYA KAMU” Yoga meninggikan suaranya.

“Hanya kamu.. Tak peduli gender. Ng.. Kebetulan saja ternyata kamu laki-laki” Yoga kembali memelankan suaranya, lirih bahkan nyaris berbisik.

“HEH?” kini Andi yang melongo.

***

“Mau kemana?” Andi menanyai Yoga yang sudah rapi menggenggam kunci mobilnya.

“Bukan urusanmu!”

Yoga mengerucutkan bibirnya, berjalan melewati Andi. Tapi gerakannya terhenti ketika pergelangan tangannya tertahan oleh sesuatu.

“Sepertinya kau tidak sehat, lebih baik di rumah saja”

“Wah, mengkhawatirkanku Tuan? Hati-hati kau bisa tertular, GAY mungkin?”

Yoga tersenyum sinis. Menyentakkan lengannya hingga terlepas dari genggaman Andi. Dan berjalan ke arah mobilnya di depan rumah.

“Hey! Kalaupun kau GAY kita tidak mesti harus bermusuhan kan?” Andi berjalan dibelakang Yoga, mengikutinya.

“Aku tidak memusuhimu” Yoga menjawab tanpa memandang Andi.

“Dari sikapmu jelas sekali kau memusuhiku” Yoga diam tak menanggapi Andi.

“Kamu marah?” Andi kembali bertanya.

Kali ini Yoga membalikkan tubuhnya sebelum memasuki mobilnya. Dia memandang Andi penuh arti kemudian tersenyum.

“Aku tidak memusuhimu apalagi marah padamu. Jadi kumohon jangan membuatku semakin sakit dengan masih saja peduli padaku” kini Yoga telah memposisikan dirinya di belakang kemudi.

“Kita sahabat kan? Sudah sepantasnya seorang sahabat peduli pada sahabatnya”

Andi menahan pintu mobil Yoga yang akan ditutup. Akhirnya Yoga menyalakan mesin mobilnya duhulu dan memanasinya sebentar sebelum menutup pintu.

“Sadarlah! Aku ini berusaha menghindarimu, menghindari kalian. Atau, kalau kau memang peduli padaku kumohon jangan menikahi Rika, bagaimana?”

“Tidak bisa kan?” Yoga tersenyum sinis melihat Andi terdiam. Tangannya tidak lagi berusaha menahan pintu mobilnya.

Mobil Yoga segera melaju ke jalanan. Meninggalkan Andi yang berdiri dan tertunduk lemas.

Ckiiiiiiiiiiiiiiiit......

Suara decitan rem kendaraan terdenagr sangat jelas di telinga Andi. Andi menengadahkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan buru-buru melihat ke jalanan. Jantungnya tiba-tiba berdetak sangat cepat mengkhawatirkan seseorang yang baru saja meninggalkannya.

***

“Dasar! Seenaknya saja mengataiku Gay!”

“Lagipula aku tadinya tidak mau mengakui kalau aku mencintainya”

“Seenaknya saja, dengan percaya dirinya dia mengatakan tahu perasaanku”

“Bagaimanapun, ketidaknormalanku tidak sepantasnya dibicarakan terang-terangan kan?”

“Aku tahu perasaanku ini suatu dosa, bahkan semua agamapun melarangnya. Tapi bukannya perasaan cintaku ini karunia Tuhan”

“Ahhhhh, tidak tidak.. Aku tidak boleh menyalahkan Tuhan”

Begitu Yoga meninggalkan Andi, dia asik bermonolog ria. Masalahnya, kini Yoga menjadi tidak berkonsentrasi mengendarai mobilnya. Sebuah sepeda motor melaju menyeberangi jalan, Yoga yang sedang asik dengan pikirannya sendiri tidak melihat dan malah menambah kecepatan. Sampai teriakan pengendara motor mengagetinya. Dengan segera Yoga membanting stirnya menghindari pengendara motor.

Ckiiiiiiiiiiiiiiiit......

Mobil Yoga berputar 360 derajat sebanyak dua kali. Kini mobilnya berhenti memalang jalan di daerahnya yang memang selalu sepi. Yoga menyandarkan dagunya pada tangan di atas kemudi dan bernapas lega. Sekilas dia lihat pengendara motor tadi membungkuk berusaha mendirikan motornya yang terjatuh bersamanya. Ya motor itu terjatuh karena menghindari mobil Yoga namun sepertinya tidak mengalami luka yang parah.

Dan apa yang dilihatnya sekarang? Dia melihat Andi berlari ke arahnya sambil berteriak-teriak. Wajahnya yang tampan terlihat kacau.

“Sekhawatir itukah sahabatku? Calm please? Aku baik-baik saja”

Dalam hati Yoga menenangkan sahabatnya dan dia tersenyum ke arah Andi. Tetapi Andi tidak henti-hentinya berteriak sambil terus berlari ke arahnya. Dalam teriakan dan larinya sesekali tangan Andi mengibaskan tangannya seolah-oleh menyuruh Yoga keluar dari mobil.

“Lucu sekali, apa maksudnya?”

“Kalau kau ingin kemari, kemarilah. Kalau kau ingin mengucapkan sesuatu kau harus berhenti berlari terlebih dahulu”

“Kau kira, aku sehebat itu? Bisa mendengar berteriakmu yang sangat tidak jelas itu”

“Lagipula semenjak berhenti berputar suara klakson besar  mengganggu pendengaranku. Sial!”

BRUUUUUUUUUAAAKK

Begitu Yoga menoleh ke kanan dan tentu saja tidak sempat membuka pintu sebuah truk menghantamnya dengan kecepatan penuh walau sang sopir sudah berusaha mengeremnya.

***

“Yoga bertahanlah!” Andi menggenggam tangan Yoga yang kini bersandar di pangkuannya.

Pandangan Yoga saat ini merah. Ya, kedua matanya kini mengeluarkan darah. Tak terkecuali hidung dan telinganya. Begitu parahnya luka yang didapat dari kecelakann telak yang mengenainya tubuhnya.

Sakitkah? Tidak! Yoga bahkan tidak bisa merasakan apa-apa, bahkan rasa sakit di dadanya yang belakangan ini selalu mengganggunya tidak terasa sakit lagi. Yang dia rasakan saat ini hanyalah kehangatan dari cintanya sekaligus sahabat terbaiknya, genggaman tangan Andi menghangatkan hatinya. Rasa kesal yang dia rasapun menguap begitu saja.

“Kau menangisiku?” Yoga merasakan tetesan air mengenai lengannya diikuti suara isakan tertahan.

“Hei, yang seharusnya menangis itu aku kan?” lanjut Yoga tersenyum.

“Aku menggantikanmu menangis”

“Berisik! Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang”

“Kau tidak boleh tidur”

“Aku lelah”

“Aku akan menuruti permintaanmu, tapi kumohon jangan tinggalkan aku” kali ini Andi mempererat genggamannya, tangisannya makin kencang.

“Aku akan membatalkan pernikahanku” lanjut Andi masih terisak

“Hey, aku bercanda. Apa aku terlihat sekejam itu padamu dan Rika?” Yoga kembali tersenyum kini wajahnya semakin pucat.

“Aku juga mencintaimu bodoh, tidak sadarkah dirimu?”

“Aku tahu, makannya selama ini aku diam. Mati-matian bersikap biasa agar kita tidak dikatakan abnormal” susah payah Yoga bicara, kali ini dia terbatuk dan darah segar menyembur dengan derasnya begitu saja dari mulutnya tapi Yoga tetap tersenyum.

“Diamlah, kau tidak perlu bicara lagi. Sebentar lagi ambulance akan datang”

“Tadi kau bilang akan menuruti permintaanku kan?”

“Kumohon jangan bicara lagi”

“Jika aku tak ada, kumohon jangan bersedih”

“Diamlah, kau akan selamat. Kau dengar ambulance sudah datang” 

“Berjanjilah”

“Kumohon jangan bicara lagi” Andi terlalu takut kehilangan sahabatnya. Bagaimana tidak? Setiap Yoga berbicara darah segar menyembur melalui mulutnya, belum lagi darah melalui matanya tidak berhenti mengalir.

“Berjanjilah”

“Baiklah, aku tidak akan sedih. Makannya diam dan sembuhlah”  

Yoga tersenyum.

“Bebanmu akan ku bawa bersamaku, berbahagialah bersamanya dan nikmati kehidupan normalmu”

“Selamat tinggal” lanjut Yoga pada akhirnya.

Andi menangis, tidak peduli suara tangisannya terdengar oleh semua orang. Tidak peduli pada sekumpulan orang yang datang untuk memberi bantuan. Tidak peduli orang menganggapnya laki-laki cengeng. Tidak peduli dan hanya menangis...

END

======================================================

Walau ini bukan anime yaoi, tapi modelnya mereka ajalah XDD
Absurd kan?

O iya ini tadi terinspirasi  dari MV nya K.Will dengan judul yang sama Please Don't. Yang penasaran kayak apa tengok aja youtube, pasti beda. Namanya juga terinspirasi bukan plek sama keseluruhannya kan? XDD

Tau kenapa tiba-tiba Siamang nulis cerpen dengan genre yaoi yang notabene baru pertama kalinya Siamang nulis cerita boy lover? Selain untuk mencoba-coba juga karena akhir-akhir ini Siamang sering iseng baca fanfic bergenre shonen ai (karena yaoi terlalu mainsream) dari salah satu artis berkelompok yang tidak jarang melakukan fanservice. Tau fanservice kan? Untuk menyenangkan penonton, sesama anggotanya melakukan kontak fisik yang membuat penonton berteriak histeris, bahkan ada yang sampai pingsan gara-gara gak sempat melambaikan tangan ke arah kamera #apadah

Dan kebanyakan fanfic yang dibuat oleh penggemar biasanya berakhir bahagia. Atau dari awal hingga akhir selalu bahagia. Siamang merasa, so sweet-nya pasangan yaoi dalam fanfic mengalahkan so sweetnya pasangan normal XDD So sweet-nya cerita FTV kalah jauh dah, seolah-olah cinta terlarang ini merupakan hal yang wajar. Sebegitu bencinyakah para fans memasangkan idolanya dengan orang yang berlainan gender? Atau para fans ini lebih rela jika idolanya menjadi tidak normal karena ketakutan menerima kenyataan bahwa ada orang terkasih berlainan gender di balik glamornya kehidupan sebagai artis. Asembuh lah :O 

Tapi tidak kah para fans wanita ini sadar kalau jumlah pria dimuka bumi ini semakin sedikit? Kalau kalian memasangkan pria dengan pria juga, terus banyak wanita di dunia yang tanpa pasangan dong? dong dong dong? :O

Selain itu, mungkin gak sih pelaku sesungguhnya merasa sedih dengan ulah fujoshi (yang gak tau fujo googling aja yak) yang mengagung-agungkan hubungan terlarang mereka? Walaupun para fujo ini memiliki toleransi tinggi, tidak seperti sebagian orang yang menganggap hubungan antar sesama adalah suatu kesalahan, tapi tidak sedikit orang dengan kecenderungan sex menyimpang sebenarnya ingin menjadi normal kan. Maka, pesan Siamang: Jadilah seorang Fujo yang bijaksana!

Oleh karena itu, Siamang bikin cerita yang diakhiri oleh kematian satu peran utamanya. Agak berlebihan dalam penggambaran luka yang di dapat si tokoh mati, sampai darah kelaur dari mata dan lubang-lubang lainnya. Memang ada kan yang seperti itu? Masih masuk akal lah menurut Siamang dengan luka separah itu akhirnya mati di tempat kejadian walau sebelumnya dia bisa ngomong panjang lebar sama sahabatnya sebelum ajal menjemput. Kok bisa ya? Namanya juga fiksi XDD

Udah gitu doang~

O iya Siamang menerima kritik, cerita begini pasti cacatnya karena Siamang hanya sok tahu dan tidak mengetahui tentang kehidupan para shonen ai sebenarnya. Peace yo?  


4 komentar:

  1. no komen -__-
    tragis euy.
    aku belum pernah baca komik maho, Mang. :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. baca komik, nonton anime, apalagi pilem real maho siamang jg gak pernah en
      kata fujo sih biasanya ada adegan seremnya~
      *if you know what i mean lah* XDD

      Hapus
    2. i dont know, and please dont tell me. Ntar, otak gw malah ngeres :v *bocah polos nih*

      Hapus
    3. kata makhluk polos, gak ada orang polos ngaku polos enh XDD

      Hapus