Jumat, 04 Oktober 2013

TEMPE! Bangsa dan Mental

Siapa yang tidak tahu tempe?

Makanan yang dibuat dari fermentasi biji kedelai dengan memanfaatkan R. oligosporus ini dahulu dikatakan sebagai makanan rakyat jelata #oops. Namun sekarang tempe tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan rendahan saja melainkan segala lapisan masyarakat menggemari panganan ini. Lebih hebat lagi tempe malah sudah go internasional. Sebagian besar negara penggemar tempe di dunia mengetahui kelezatan dan kandungan gizi yang ada di dalam tempe. You know? Tempe itu aman diberikan kepada berbagai kelompok umur, dari bayi hingga lansia bisa menikmati tempe, karena adanya enzim pencernaan yang dihasilkan oleh kapang tempe, maka protein, lemak, dan karbohidrat pada tempe menjadi lebih mudah dicerna di dalam tubuh dibandingkan yang terdapat dalam kedelai. 


Bicara tentang tempe inget quotes dari Presiden Pertama kita, Ir. Soekarno

"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita"

Nah ada kata tempe. Apa ada yang salah dengan tempe? Kenapa Soekarno bersikeras bahwa kita ini bukan bangsa tempe? Bukannya kita negara penghasil tempe, bahkan asal mula tempe tercipta di negeri ini.

Oke, selama ini istilah 'mental tempe' atau 'kelas tempe' digunakan membicarakan sesuatu yang bermutu rendah dan murah seperti tempe. Tapi itu dulu, saat ini kedelai yang menjadi bahan utama pembuatan tempe saja juga kepingin merasakan terbang sampai langit. Kualitasnya? Jangan ditanya lagi karena sudah pasti tempe itu kaya gizi. Mungkin, kata-kata Bung Karno lebih mengacu pada proses pembuatan tempenya ya? Yang pada jaman dulu selalu diinjak-injak (proses pelepasan kulit ari kedelai).

Diinjak-injak! Siapa yang mau?
Ditendang aja gak ada yang mau, apalagi diinjak-injak yang merupakan pengulangan dari kata injak (biarpun ditulis 2x tapi prakteknya bisa lebih dari itu) #apadah

Diinjak-injak itu menyakitkan. Tapi tidak sedikit orang yang tidak sadar bahwa dia sedang diinjak-injak (bukan injak-injak dalam arti sebenarnya y). Imo, pembodohan adalah cara lain dari menginjak-injak, serasa lihat kedelai yang diinjak-injak seperti pembuatan tempe jaman dulu.Apalagi pembodohan publik, yang korbannya cuma bisa bilang iya-iya aja. Apalagi itu bisa jadi menyebabkan perselisihan. Apalagi sampai itu menimbulkan ketakutan. Apalagi coba? Tidak-tidaaaaak..
Pembodohan sendiri tidak lepas dari sosok yang ada dibelakangnya, yaitu provokator. Si provokator ini biasanya orang pinter, biasanya.. Jadi, gimana mirisnya jika ada provokator yang bisa dikatakan dari golongan kurang pintar berhasil melakukan pembodohan? Ehmmmm..

Mental tempe tidak selamanya orang yang merasa terinjak-injak. Orang yang merasa sedang di atas angin (avatar dong?) atau yang sedang di atas daun (ulat dong?) yang dengan bangganya ngeles sana-sini padahal salah dan tidak mau mengakui kesalahan sendiri merupakan perwujudan dari 'mental tempe' lainnya. Bagus sih mempertahankan argumennya yang mungkin menurut dia paling dan benar (yang begini idealis apa yak?) tetapi jika sudah jelas jika anggapannya yang semula diyakini benar ternyata salah, apa perlu tetap dipertahankan? Bukannya perubahan untuk menjadi lebih baik itu perlu. Entahlah..
Walaupun tidak merasa terinjak tapi di belakangnya atau malah di hadapannya langsung bisa jadi si avatar dan ulat ini 'ditempe-tempein' sama orang-orang sekitarnya karena tidak mau mengakui kesalahan sendiri.
Yang saya tahu, kalau jelas-jelas kita salah sangat baik jika kita minta maaf kan? Ya tapi memang kembali lagi ke mental masing-masing. Eh, tapi ini berpengaruh ke mental atau kecerdasan ya? Karena ada saja orang yang, maaf, kurang cerdas, dengan pedenya tetap mempertahankan kesalahannya walaupun sudah diberitahu yang benar dan tetap kekeuh n enggak ngeh kalau yang diyakininya salah. Asembuh lah -_-

Makin gak jelas kan? Saya juga bingung @.@
Lebih baik saya akhiri daripada makin ngawur.

Salam tengil,
Siamang

Notabene:
  • Cintailah ploduk-ploduk Indonesia
  • Makanlah tempe
  • Buanglah sampah pada tempatnya
  • Jika berhalangan hadir harap sebelumnya memberi tahu dan tempe #apadah XDD

4 komentar:

  1. wah kirain mo ngebahas seluk beluk tempe, ternyata postingan kritis euy.
    barusan debat ya Mang? Mbahas apaan?
    #keponih

    Imo, orang yg tetap ngotot meski ia salah, mungkin terlalu gengsi utk mengakui kesalahannya. Harga dirinya terlalu tinggi mungkin. Kasihan ya, orang2 yg kek gitu. Semoga pintu hati dan pikiran mereka terbuka. Dan yep, aku setuju dg pendapatmu bhw berubah agar menjadi manusia yg lebih baik itu sangat perlu.

    Masalahnya, banyak orang yg masih belum siap utk berubah ke arah yg lebih baik, karena mereka merasa sudah terlalu lama berkubang di tempat yg sama, yg akhirnya membuat mereka merasa nyaman dg keadaannya yg sekarang.

    #baca komen inih, kamu jangan muntah-muntah ya Mang XD

    eia, kalo boleh tahu, warna auramu apaan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah???

      gak sampe muntah2 kok enh, cuma mual aja XDD

      aura itu puti yg doyan tidur kan? :o

      Hapus
  2. Gak tau kenapa dulu gue sering denger istilah 'mental tempe' padahal tempe levelnya gak bawah2 amat! Bawah dikit jos!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. bawah banyak jos banget (?) :O

      Hapus